Sitemap

PENDIDIKAN, INDONESIA

Akal Sebagai Seni Hidup

Mengapa kebodohan penting untuk dibahas?

3 min readApr 7, 2025

--

Press enter or click to view image in full size
source: D

Memasuki 2025, saya melihat banyak sekali fenomena yang sudah terjadi di Indonesia hingga Q3 tahun ini. IHSG anjlok, demo besar, skeptisisme masyarakat terhadap salah satu perusahaan minyak negara, Indonesia kalah 1–5 dari Australia (meskipun menang melawan Bahrain), dan masih banyak lagi.

Ya, sebagai seorang profesional di bidang digital marketing apakah hal-hal itu memiliki dampak substansial kepada saya? Jawabannya, mungkin iya namun belum signifikan. Apa yang membuat saya hidup adalah membuat proposal campaign, menghitung anggaran influencer, dan menghitung KPI. Akan tetapi, kegiatan-kegiatan romansa seperti inilah (menulis) yang membuat saya tetap ‘ingin’ hidup.

Saya melihat fenomena-fenomena ‘kureng’ yang terjadi di sini secara radikal bukanlah diakibatkan oleh baik atau jahatnya seseorang secara penggaris politik yang dikemas cantik melalui moralitas. Namun, substansinya lebih kepada ‘kebodohan’ individu yang memegang kebijakan mikro ataupun makro.

“Dewasa ini, inkompetensi lebih banyak membunuh ketimbang baik / jahat.” – Dr. Bagus Putra Mulyadi

Ternyata, asumsi saya memiliki kemiripan dengan pernyataan Dr. Bagus Mulyadi dalam cuplikan podcastnya di Malaka Project bersama Mas Ferry Irwandi. Ia mendemonstrasikannya seperti kecelakaan pesawat yang menelan korban seluruh penumpang dan awak kabin. Apakah pemilik perusahaan atau pilotnya orang jahat? Tidak, namun adalah faktor ‘inkompetensi’ yang berakibat fatal.

Jika kita melihat dalam scoop yang lebih luas, sebenarnya kebodohan atau inkompetensi itu juga telah menelan korban lebih banyak di kehidupan lain. Terminologi ‘menelan korban’ lebih dari sekadar angka kematian hidup, melainkan termasuk juga angka kematian identitas, potensi, dan kemerdekaan berpikir.

Saya tidak tahu berapa banyak pasangan suami istri di Indonesia yang telah bercerai akibat incompetent in communication that led to identical crisis? Berapa banyak potensi anak muda Indonesia yang terbuang sia-sia akibat kekurangan pendanaan karena inkompetensi distribusi dana pendidikan pemerintah dan faktor ekonomi orang tua? Berapa banyak kemerdekaan berpikir akademisi yang direnggut akibat kurangnya institusi dalam menyediakan wadah dialektika ?— inkompetensi otoritas.

“Power and knowledge directly imply one another… there is no power relation without the correlative constitution of a field of knowledge.”
Michel Foucault on Discipline and Punish (1975)

Sejak masa berburu dan meramu, apa yang menjadi pondasi kebenaran manusia adalah pengetahuan. Pengetahuan ini dimasak oleh minoritas dan dikonsumsi oleh mayoritas. Misalnya, buku-buku kurikulum pendidikan untuk semua anak SD (mayoritas) diedarkan dan dilegalkan oleh pemerintah (minoritas). Peraturan jam kantor pukul 10.00 WIB hingga 18.00 WIB yang diterbitkan oleh bos (minoritas) adalah sebuah kebenaran dan dipatuhi oleh karyawan (mayoritas).

Kekuasaan melahirkan pengetahuan, pengetahuan melahirkan kebenaran, dan kebenaran melahirkan moral. Tidak heran ketika masa kampanye pemilihan presiden Indonesia kemarin banyak sekali sesama warga Indonesia yang saling ejek dan bahkan berkelahi dalam membela calon pilihannya masing-masing — moralitas vs moralitas. Maaf saya tidak tahan, wkwkwk.

Hal lucu seperti itu bisa terjadi karena tiap individu sudah memegang kebenarannya masing-masing, dimana kebenaran ini berasal dari pengetahuan yang mereka konsumsi di media daring yang tentunya sudah dimasak oleh masing-masing calon untuk mendapatkan kekuasaan.

That’s why Foucault berkata “knowledge is power.” Sebenarnya mereka tidak benar-benar kompeten dalam memerintah, namun jalan untuk mendapatkannya sangatlah mudah akibat mereka tahu sistem pemilunya adalah demokrasi, dimana yang inkompeten tetap memiliki hak suara. Oh, God Bless Indonesia.

Intinya, akal itu sangat penting. Newton menggunakan akal ketika ia kejatuhan apel pada musim panas 1666. Tesla menggunakan pikirannya saat menemukan arus bolak-balik (AC) dalam visualisasi pikirannya ketika jalan kaki di taman. Hal-hal besar hanya akan terjadi ketika manusia mulai menggunakan akalnya, dan melihat fenomena-fenomena yang terjadi belakangan ini di Indonesia, rasanya penggunaan ‘akal’ masih sangat minim dilakukan di negara +62 ini.

Senang bisa menerbitkan tulisan kembali di Medium. Selamat sore, dan maaf lahir batin, folks!

--

--

katakurik
katakurik

Written by katakurik

Digital Creative Enthusiast | Bachelor of Philosophy | Digital Marketer